Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Kelas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pembelajaran Kelas. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 27 Januari 2024

Sushi Isi Telur Dadar dan Sosis

Makanan khas Jepang ini bisa dimodifikasi dengan kearifan lokal makanan Indonesia. Misalnya dengan menggunakan telur dadar sebagai pengganti ikan salmon, bisa juga ditambahkan dengan sosis isinya. Untuk membuat sushi telur dadar ini menggunakan empat bahan, yaitu telur ayam, nasi pulen, sosis dan juga nori.

Menu praktis satu ini tidak hanya praktis tetapi juga sangat mudah dibuat. Penasaran cara membuatnya? Berikut bahan-bahan yang dibutuhkan serta langkah-langkah membuatnya.

Bahan – Bahan :

1.      Nasi pulen hangat secukupnya

2.      1 Butir telur ayam

3.      1 Sosis

4.      1 Lembar nori besar, potong-potong memanjang

Cara Membuat Sushi Isi Telur Dadar & Sosis :

1.      Pertama-tama masukkan telur ayam ke dalam mangkuk, tuang bahan bumbu seperti garam secukupnya lalu kocok sampai merata.

2.      Panaskan Teflon lalu masukkan telur yang sudah di kocok lalu goreng telur hingga matang. Jika telur sudah matang, angkat lalu potong-potong.

3.      Siapkan selembar nori dan letakkan nasi pulen hangat di atasnya.

4.      Tempatkan potongan telur dadar dan sosis yang sudah di potong-potong di atas nasi lalu gulung dengan hati-hati.

5.      Potong sushi tersebut lalu sajikan.

Itulah resep sushi isi telur dadar & sosis yang mudah dibuat dengan harga yang terjangkau. Menu ini juga mudah untuk di jadikan bahan praktek anak-anak di sekolah. Khususnya anak-anak kelas 1 SD PLTU Suralaya Wukir Retawu yang sudah mencoba untuk membuat sushi isi telur dadar dan sosis di sekolah.


Oleh: Ibu Fani (Guru Kelas 1C)

          Project P5

Kamis, 06 September 2018

Berlatih Berbicara

Berbicara adalah hal yang biasa kita lakukan dalam keseharian baik di rumah, di sekolah, di masyarakat, di pasar, dll. Berbicara adalah saling memberikan informasi yang penting bagi berlangsungnya kehidupan sosial di masyarakat. Ini adalah kemampuan dasar manusia. Akan tetapi akan berbeda jika situasi berbicara harus di depan orang banyak, membicarakan sesuatu yang mengandung ilmu pengetahuan atau hal yang penting untuk diketahui bersama, tidak semua orang mampu melakukannya dengan baik, orang dewasa sekalipun. Membutuhkan rasa percaya diri, jam terbang tampil, bahasa tubuh yang baik, kejelasan bahasa, intonasi yang tepat agar pesan dapat tersampaikan. 

Kemampuan presentasi dan berbicara di depan umum ini perlu dilatih sejak anak-anak masih kecil, terutama di tingkat Sekolah Dasar. Tentu disesuaikan dengan kemampuan anak, walaupun di awalnya malu, kurang pede, yang terpenting adalah mereka mau belajar, mau berbicara sesuai dengan gaya anak-anak, dengan dibimbing orang dewasa. Jika terus dibiasakan maka akan tumbuh rasa percaya dirinya. Karena anak-anak adalah generasi yang akan meneruskan kepemimpinan bangsa Indonesia di masa depan. Tentunya diperlukan generasi yang tangguh, percaya diri dan berani tampil.

Berikut foto-foto penampilan anak-anak Kelas 5-B mempresentasikan tentang macam-macam gangguan pada Organ Pernafasan Manusia:






Kamis, 02 Agustus 2018

Membuat Adonan Plastisin Kelas 6 B


Berikut adalah video Vlog anak-anak kelas 6B sedang membuat adonan plastisin bersama ibu guru kelas 6 (Agustin Hutasoit)...
Selamat menyaksikan!

Jumat, 27 Juli 2018

Kemandirian dan Kreatifitas Anak

Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam pendidikan adalah kemandirian dan kreatifitas anak. Kita sebagai guru dan orang tua hanya sebagai fasilitator, pembimbing, dan motivator, menyediakan sarana dan prasarana. Selanjutnya biarkan anak mengerjakan segala tugas dan tanggung jawabnya sendiri. Sehingga akan tumbuh sikap kreatif dan mandiri.

Orang tua hendaknya tidak sekedar mengejar nilai PR, tugas yang bagus, namun tanpa melibatkan anak secara penuh pada prosesnya. Kita membantu bukan dengan mengerjakan tugas anak, tapi dengan memberinya motivasi, semangat sehingga anak sendiri yang berhasil menyelesaikannya. Apapun dan bagaimanapun hasilnya ini akan menjadi karya orisinil anak. Kebiasaan ini akan menumbuhkan rasa percaya diri pada anak.

Hal paling sederhana adalah ketika seorang anak kesulitan memakai ikat pinggangnya sendiri. Terkadang orang tua terlalu terburu-buru membantu memasangkannya. Padahal jika anak dibiarkan berusaha dan berproses sendiri maka itu lebih mendidik. Anak akan terbiasa berjuang, merasakan prosesnya, dan membentuk pribadi mental yang kuat, kreatif dan mandiri. Dari hal-hal sederhana di waktu kecil hingga dewasa nanti akan mampu dan terbiasa menyelesaikan berbagai permasalahan dan membuat ide-ide baru sesuai tingkat kedewasaannya.

Di bawah ini adalah hasil karya orisinil anak-anak kelas 5-B dari bahan kardus dan plastisin, membuat bentuk hewan dalam rangka pelajaran Tema tentang Organ Gerak Hewan.



Jumat, 20 April 2018

Membuat Batik Jumputan


Belajar itu harus membuat anak beraktivitas dan menyenangkan, yups 😎  betul sekali, hari ini anak-anak kelas 5-B praktik membuat batik Jumputan.

Batik ini dibuat dengan teknik ikat celup. Sebuah kain putih polos diikat menggunakan karet atau tali pada bagian-bagian tertentu, dapat juga dengan memuntir terlebih dahulu kain agar membentuk pola yang menarik. Ikatan juga dapat menggunakan kelereng atau batu-batu kecil. Setelah itu, kain dicelupkan ke dalam larutan pewarna kain, dapat juga dengan menyiramkan langsung pewarna ke kain pada bagian-bagian tertentu. Pada bagian yang terikat karet atau tali tidak akan terkena warna. 


Kegiatan ini agar siswa mencoba langsung membuat batik secara sederhana, belajar bekerja sama, menyiapkan bahan-bahan, mengenal salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia.





Foto-foto kegiatan membuat batik Jumputan


































WUKIRSMART ASAH KETERAMPILAN SISWA DENGAN KREATIFITAS KOLASE DEKORATIF

WUKIRSMART KLS 3 A  ASAH KETERAMPILAN SISWA DENGAN KREATIFITAS KOLASE DEKORATIF

Pembelajaran yang menyenangkan dengan fungsi otak kanan yang memanfaatkan imajinasi untuk  menghasilkan karya seni. Hari jumat tanggal 20 April 2018, di teras depan kelas siswa kelas 3 A asyik membuat karya seni kolase membingkai foto, kegiatan ini sebagai model Learning By Doing ( belajar sambil melakukan ).

Bu Amalia Guru kls 3 A  sangat bangga melihat siswa siswi  SD wukir Retawu kelas 3 A dalam berproses untuk melatih percaya diri dalam setiap pembelajaran, dalam pembelajaran kolase  dekoratif ada beberapa Unsur-unsur rupa yang terdapat pada kolase antara lain :

  1. Titik dan Bintik: titik adalah unit unsur rupa yang terkecil yang tidak mempunyai ukuran panjang dan lebar, sedang bintik adalah titik yang sedikit lebih besar. Unsur titik pada kolase dapat diwujudkan dari butir-butir pasir laut. Sedang bintik dapat diwujudkan dari  lada atau biji-bijian yang berukuran kecil dan sejenisnya.
  2. Garis: adalah perpanjangan dari titik yang mempunyai ukuran panjang namun relatif tidak mempunyai lebar. Ditinjau dari jenisnya garis dapat dibedakan menjadi: garis lurus, garis lengkung, garis putus-putus dan garis spiral. Unsur garis pada kolase dapat diwujudkan dari potongan kawat, lidi, batang korek, benang dan sebagainya.
  3. Bidang: adalah unsur rupa yang terjadi sebab pertemuan beberapa garis. Bidang dapat dibedakan menjadi bidang horizontal, vertikal, melintang. Aplikasi unsur bidang pada kolase bisa berupa bidang datar (2D) dan bidang bervolume (3D).
  4. Warna: adalah unsur rupa yang penting dan salah satu wujud keindahan yang dapat dicerap oleh indera penglihatan manusia. Warna secara nyata dapat dibedakan menjadi warna primer, sekunder dan tertier. Unsur warna pada kolase dapat diwujudkan dari unsur cat, pita/renda, kertas warna, kain warna-warni dan sebagainya,
    Mudah-mudahan dengan kreatifitas  dapat terasah dalam setiap pembelajaran lainnya dan mengasilkan sikap percayaa diri bagi siswa. 

Rabu, 14 Maret 2018

BERKREASI DALAM KEBERAGAMAN TARI

      Indahnya keberagaman di negeriku, Indonesia adalah negara kepulauan yang luar biasa. Banyak faktor yang membuat Indonesia menjadi negara yang memiliki banyak keberagaman salah satunya adalah negara kepulauan. Keberagaman budaya di Indonesia salah satunya lagu daerah, yang kini makin banyak di tinggalkan dan dilupakan oleh generasi muda.
      Kalau bukan kita siapa lagi???
Memajukan lagu asing dan melupakan lagu negeri sendiri .
Duhhh sedihnya. . . 
Kalau negeri lain udah ambil alih baru kita geger.
     Pada tema  8 ini kelas 4 banyak mengenal lagu- lagu daerah dan telah mereka kreasikan menjadi tari, tari kreasi lagu daerah. Hari ini mereka bersemangat untuk menampilkan tarian yang telah mereka buat. Dengan berbagai macam property sebagai salah satu unsur tari dan tak lupa pola lantai yang dinamik membuat tarian terlihat lebih indah.




Gambar 1
Gambar 2
Gambar 3

Gambar 4
Gambar 5


Kamis, 08 Maret 2018

Pembelajaran Abad - 21

Pembelajaran Abad 21


Kemajuan Ilmu dan Teknologi Sangat cepat. Hal ini menuntut kita sebagai pengajar dan pendidik harus dapat mengikuti perkembangan teknologi dalam rangka memberikan kesempatan belajar para peserta didik. Berikut ini tulisan tentang bagaimana pembelajaran di era digital pada abad 21 saat ini. 

Plickers Cards sebagai salah satu cara penilaian.




Pembelajaran abad 21 merupakan pembelajaran yang mempersiapkan generasi abad 21 dimana kemajuan teknologi yang berkembang begitu cepat memiliki pengaruh terhadap berbagai aspek kehidupan termasuk pada proses belajar mengajar. Selain itu, system pembelajaran abad 21 merupakan suatu peralihan pembelajaran dimana kurikulum yang dikembangkan saat ini menuntut sekolah untuk merubah pendekatan pembelajaran yang berpusat pada pendidik (teacher-centered learning) menjadi pendekatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student-centered learning). Hal ini sesuai dengan tuntutan dunia masa depan dimana peserta didik harus memiliki kecakapan berpikir dan belajar. Kecakapan-kecakapan tersebut diantaranya adalah kecakapan dalam memecahkan masalah (problem solving), berpikir kritis, kolaborasi, dan kecakapan berkomunikasi. Semua kecakapan ini bisa dimiliki oleh peserta didik apabila pendidik mampu mengembangkan rencana pembelajaran yang berisi kegiatan-kegiatan yang menantang peserta didik untuk berpikir kritis dalam memecahkan masalah. Kegiatan yang mendorong peserta didik untuk bekerja sama dan berkomunikasi harus tampak dalam setiap rencana pembelajaran yang dibuatnya.
Untuk mewujudkan keterampilan-keterampilan siswa yang mampu bersaing pada abad 21 maka pembelajaran di sekolah harus merujuk pada 4 karakter belajar abad ke 21 yang dirumuskan dalam 4C yakni:
a. Communication : artinya, pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa harus terjadi komunikasi multi arah dimana terjadi komunikasi multi arah antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, maupun antar sesama siswa. Siswa hendaknya diberi kesempatan untuk mengemukakan pendapatnya dalam proses belajar mengajar, sehingga siswa dapat mengkonstruk pengetahuannya sendiri melalui komunikasi dan pengalaman yang dia alami.
Komunikasi tidak lepas dari adanya interaksi antara dua pihak. Komunikasi memerlukan seni, harus tahu dengan siapa kita berkomunikasi, kapan waktu yang tepat untuk berkomunikasi, dan bagaimana cara berkomunikasi yang baik. Komunikasi bisa dilakukan baik secara lisan, tulisan, atau melalui simbul yang dipahami oleh pihak-pihak yang berkomunikasi. Komunikasi yang berjalan dengan baik tidak lepas dari adanya penguasaan bahasa yang baik antara komunikator dan komunikan.
Kegiatan pembelajaran merupakan sarana yang sangat strategis untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi siswa, baik komunikasi antara siswa dengan guru, maupun komunikasi antar sesama siswa. Ketika siswa merespon penjelasan guru, bertanya, menjawab pertanyaan, atau menyampaikan pendapat, hal tersebut adalah merupakan sebuah komunikasi.
b. Collaboration : artinya, pada proses pembelajaran guru hendaknya menciptakan sistuasi dimana siswa dapat belajar bersama-sama/berkelompok (team work), sehingga akan tercipta suasana demokratis dimana siswa dapat belajar menghargai perbedaan pendapat, menyadari kesalahan yang ia buat, serta dapat memupuk rasa tanggung jawab dalam mengerjakan tanggung jawab yang diberikan. Selain itu dalam situasi ini siswa akan belajar tentang kerjasama tim, kepemimpinan, ketaatan pada otoritas, dan fleksibelitas dalam lingkungan kerja.
Pembelajaran secara berkelompok, kooperatif melatih siswa untuk berkolaborasi dan bekerjasama, juga menanamkan kemampuan bersosialisasi dan mengendalikan ego serta emosi. Dengan demikian melalui kolaborasi akan tercipta kebersamaan, rasa memiliki, tanggung jawab, dan kepedulian antar anggota. Sukses bukan hanya dimaknai sebagai sukses individu, tetapi juga sukses bersama, karena pada dasarnya manusia disamping sebagai individu, juga makhluk social. Saat ini banyak orang cerdas secara intelektual, tetapi kurang mampu bekerja dalam tim, kurang mampu mengendalikan emosi, dan memiliki ego yang tinggi. Hal ini tentunya akan menghambat jalan menuju kesuksesannya, karena menurut hasil penelitian Harvad University, kesuksesan seseorang ditentukan oleh 20% hard skill dan 80% soft skill. Kolaborasi merupakan gambaran seseorang yang memiliki soft skill yang matang. Hal ini akan mempersiapkan siswa dalam menghadapi dunia kerja dimasa yang akan datang
c. Critical Thinking and Problem Solving: artinya, proses pembelajaran hendaknya membuat siswa dapat berpikir kritis dengan menghubungkan pembelajaran dengan masalah-masalah konstektual yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Kedekatan dengan situasi yang real yang dialami oleh siswa ini akan membuat siswa menyadari pentingnya pembelajaran tersebut sehingga siswa akan menggunakan kemampuan yang diperolehnya untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang dihadapinya.
Kegiatan pembelajaran dirancang untuk mewujudkan hal tersebut melalui penerapan pendekatan saintifik (5M), pembelajaran berbasis masalah, penyelesaian masalah, dan pembelajaran berbasis projek. Guru jangan rishi atau merasa terganggu ketika ada siswa yang kritis, banyak bertanya, dan sering mengeluarkan pendapat. Hal tersebut sebagai wujud rasa ingin tahunya yang tinggi. Yang perlu dilakukan guru adalah memberikan kesempatan secara bebas dan bertanggung jawab kepada setiap siswa untuk bertanya dan mengemukakan pendapat. Guru mengajak siswa untuk menyimpulkan dan membuat refleksi bersama-sama. Pertanyaan-pertanyaan pada level HOTS dan jawaban terbuka pun sebagai bentuk mengakomodasi kemampuan berpikir kritis siswa.
d. Creativity and Innovation, artinya pembelajaran harus menciptakan kondisi dimana siswa dapat berkreasi dan berinovasi. Guru hendaknya menjadi fasilitator dalam menampung hasil kreativitas dan inovasi yang dikembangkan oleh siswa.
Guru perlu membuka ruang bagi siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Kembangkan budaya apresiasi terhadap sekecil apapun peran atau prestasi siswa. Hal ini bertujuan untuk memotivasi siswa supaya terus meningkatkan prestasinya. Peran guru hanya sebagai fasilitator dan membimbing setiap siswa dalam belajar, karena pada dasarnya setiap siswa adalah unik dan memiliki kecerdasan yang berbeda-beda. Sesuai yang disampaikan oleh Howard Gardner bahwa manusia memiliki 8 jenis kecerdasan majemuk, diantaranya: (1) kecerdasan matematika-logika, (2) kecerdasan bahasa, (3) kecerdasan musikal, (4) kecerdasan kinestetis, (5) kecerdasan visual-spasial, (6) kecerdasan intrapersonal, (7) kecerdasan interpersonal, dan (8) kecerdasan naturalis

Proses pembelajaran untuk menyiapkan siswa memiliki kecakapan abad 21 menuntut kesiapan guru dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pembelajaran. Guru atau Pendidik memegang peran sentral sebagai fasilitator pembelajaran. Pendidik berperan sangat penting (Fuad Hasan), karena sebaik apapun kurikulum dan system pendidikan yang ada, tanpa didukung mutu pendidik yang memenuhi syarat maka semuanya akan sia-sia.Sebaliknya, dengan pendidik yang bermutu maka kurikulum dan system yang tidak baik akan tertopang. Keberadaan pendidik bahkan tak tergantikan oleh siapapun atau apapun sekalipun dengan teknologi canggih. Alat dan media pendidikan, sarana prasarana, multimedia dan teknologi hanyalah media atau alat yang hanya digunakan sebagai rekan dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, pendidik dan tenaga kependidikan perlu memiliki kualifikasi yang dipersyaratkan, kompetensi yang terstandar serta mampu mendukung dan menyelenggarakan pendidikan secara professional. Khususnya guru sangat menentukan kualitas output dan outcome yang dihasilkan oleh sekolah karena dialah yang merencanakan pembelajaran, menjalankan rencana pembelajaran yang telah dibuat sekaligus menilai pembelajaran yang telah dilakukan (Baker & Popham, 2005:28).
Semoga dengan adanya tulisan ini dapat membuka cakrawala kita dalam menggunakan perkembangan ilmu dan teknologi untuk kemajuans erta peningkatan kualitas pendidkan sekolah SDWR  khususnya dan dunia pendidikan pada umumnya. Amiin

Sumber : https://blog.igi.or.id


Selasa, 01 Agustus 2017

Presentasi Rangka Manusia

Siswa kelas 5 tampil ke depan menyebutkan nama-nama rangka tulang manusia. Rasa percaya diri akan semakin tumbuh dengan sering tampil ke depan.